3. Mawas Diri Hubungan Dengan Tuhan Yang Maha Esa

3. Mawas Diri Hubungan Dengan Tuhan Yang Maha Esa
Selanjutnya Marbangun Hardjowirogo menerangkan, bahwa Mawas Diri dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa:
“setiap usaha batiniah berupa suatu permohonan Kepada ALLOH SWT supaya Dia berkenan memberi petunjuk mengenai benar tidaknya suatu peraturan atau tindakan yang telah di ambil, bersifat tertutup bagi penelitian oleh orang lain, mengenai pelaksanaan nyatanya secara batiniah yang yang pada pokoknya menunjukkan adanya suatu hubungan antara penghayat Mawas Diri dan Tuhan Yang Maha Esa di sembahnya. Suatu hubungan pribadi dan keramat untuk mengizinkan pemrofonisnya oleh penelitian-penelitian lahiriyah.
Dari kedua kutipan di atas menjadi jelaslah pengertian Mawas Diri yaitu kembalinya menemui hati nurani yang selalu berada dalam tuntunan ALLOH SWT, tidak lagi bingung atau bahkan kewalahan menghadapi persoalan yang timbul setiap setiap hari. Dengan kesadaran Hati Nurani yang mendapatkan cahaya pengertian bersumber pada ALLOH SWT, ia akan dapat memahami makna pengalaman –pengalaman yang di jumpai pada kehidupan lahir batin.

4. Mengenal Dirinya Sendiri
Seseorang yang mendekatkan diri pada sumber hidupannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus akan mengenal dirinya secara utuh. Dalam proses manusia mengabdikan diri memenuhi kebutuhan-kebutuhan jagad atau dunia, maratabat jiwanya di sucikan. Budi atau nuraga selalu mendapatkan cahayaterang dari ALLOH SWT, akan mengelola kesadaran pribadi yang bersangkutan pada kondisi yang murninya, budi pekerti akan di perhalus. Hal lebih lanjut akan berpengaruh dalam sikap, tindak tutur katanya sehari-hari. Ia akan berpenampilan sesuai dengan martabat yang di embannya. Sikap tindak tuturnya akan berbudaya. Ia akan menampilkan budi pekerti kemanusian yang luhur. Sebagai manusia yang jiwanya telah dewasa, penampilannya akan memancarakan kebersihan rohaninya.
Ia akan mampu mengendalikan diri Mawas Diri berbuat baik kepada sesame hidup. Ia mampu menampilkan sikap-sikap yang terpuj, contohnya cinta kasih terhadap sesame hidup, rasa ikhlas, rasa nerimo, watak jujur, sabar pengabdiannya, bertenggang rasa dan lain-lain, memberikan pepadang(bhs jawa)kepada orang lain.
Seperti apa yang di ucapakan J.Krisnamukti, “semakin orang mengenal kan dirinya senduri, semakin dewasalah ia, sebab ketidakdewasaan itu terletak pada orang tidak bias mengenali dirinya sendiri.
Jadi mengenal diri sendiri menurut I Wayan Sekur didalam makalahnya” mencari persamaan di dalam perbedaan”, adalah juga mengenal yang lainnya(semuanya)atau mengenal diri sendiri adalah sikap dewasa(matang). Hanya apabila diri sendiri sudah dewasa, maka ia siap mengenal semuanya menayatu dengan semua.

5. Pengendalian Diri
Pengendalian diri ini merupakan sikap pembawaan yang sadar penuh dan yang di landasi kayakinan atau fungsi kehidupan manusia sebagai pribadi dan sekaligus makluk social dalam melaksanakan tugas kehidupan, baik itu menyangkut keperluan pribadi maupun tugas kemasyarkatan.
Pengendalian diri kita lakukan mengingat kepentingan hak azasi orang lain, maka dilaksakan atas dasar pengertian timbale balik. Dalam kehidupan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang di emban tugas dan kewajiban”memayu Hayuning Bawano” berarti bahwa manusia hendaknya dapat menempatkan diri baik sebagai makluk individu maupun sebagai makluk social di bidang tugas kehidupan masing-masing dan dalam hubungan tugas bersama.
Adapun tentang pengendalian nafsu dapat pula di ambil contoh ketika Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat kembali dari suatu peperangan, setiba di pintu gerbang kota Madinah mereka berhenti. Mereka bersiap-siap bertemu dengan keluarga yang tinggal berperang. Di saat itulah Rosululloh SAW memberikan nasehat kepada para sahabat. “kita baru pula dari perjuangan kecil untuk menuju keperjuangan yang lebih besar yaitu perjuangan melawan hawa nafsu”.
Di dalam surat Wedatama telah memberikan petunjuk dalam tembang pucung sbb:
“ngelmu iku kelakone kanthi laku
Lekase lawan khas,
Tegese khas nyantosani,
Setyo budya, pengekesing dur angkaro
Yang berarti
Ilmu (ma`rifat) itu baru dapat di katakan terlaksana jika penghayatannya disertai pengendalian hawa nafsu dibagi menjadi bebrapa criteria:
A.senantiasa mampu melaksakan pengabdian
Dengan melakukan mawas diri(musabah) di sertai parameter nilai-nilai ketaqwaan akan mengantarkan kita pada perenungan mendalam tentang makna hidup sebagai hamba ALLOH dan sebagai diri pribadi yang beriman, yang mengemban amanat Kholifah. Status sebgai hamba Alloh menempatan kita sebagai pengabdian dan kebahagian akan didapatkan ketika kita mampu melaksanakan pengabdian.

B. tidak silau akan kemewahan dunia
Ada ungkapan jawa yang terkenal:”aja mung melik gebyar” di mana ungkapan ini mengandung ajaran atau nasehat agar orang jangan lekas merasa silau atau kagum menyaksikan kemewahan atau kemgahan.
Rosulloh SAW telah memperinagtakan kita “sesunguhnya dunia ini manis dan ranum. Dan sesunguhnya Alloh membuat kamu sebagai kholifah di dalamnya. Dan Alloh melihat kamu berbuat. Oleh karena itu hindarilah tipuan dunia dan tipuan wanita. Sesunguhnya siksa yangt di timpahkan kepada bani Isro`il di sebabkan karena hal itu( H.R Muslim).
C. senantiasa dapat hidup dalam keserasian, keselarasan dan keseimbangan.
Ada ungkapan jawa yang terkenal “Sing Biso Mati Sakjroning Urip Lan Urip Sakjroning Mati”arti yang tersirat dari ungkapan ini ialah hendaknya seseorang dapat mempertahankan kesederhanaan di dalam kemewahan dan dapat bertawakal serta tabah dalam penderitaan. Hendaknya orang sadar bahwa semua makluk yang kini hidup, pada waktunya akan mengalami kematian.
D. senantiasa bersih hati dan lapang dada
Seperti di tuturkan Imam Ghozali dalam bukunya “Kholiq al Muslim” tak ada nikmat dan anugrah yang amat besar selain nikmat bersih hati dan lapang dada. Alloh berfirman “siapa-siapa yang Alloh menghendaki akan memberikan petunjuk, maka dia melapangkan dadanya. Dan siapa-siapa yang di kehendakinya Alloh kesesatannya akan menjadikan dadnya sesak dan sempit(Q.S.6:125)
Orang yang bersih hati dan lapang dada, seperti tersebut di atas tak lain adalah orang-orang yang mampu menekan mereka secara maksimal kecenderungan-kecenderungan buruk di dalam dirinya sendiri. Seperti rasa benci, dengki, iri hati dan dendam kesunat. Sebaliknya, ia juga mampu dan berhasil mengembangkan potensi-potensi baik yang ada dalam dirinya menjadi kualitas-kualitas moral (aklakul al kharimah) yang nyata dan actual dalam kehidupannya.
E. senantiasa ikhlas dalam situasi apapun
Ikhlas merupakan satu suku kata yang sederhana, namun sangat sulit untuk di laksankan dalam kehidupan sehari-hari. Para guru dan da`I selalu menasehati hati kita agar ikhlas dalam bekerja maupun beramal.(surah Al-Bayinah ayat 5), menyuruh kita bersikap ikhlas dan lurus. Namun pada kenyataanya sering tak ikhlas dalam melakukan kebaikan.
Kita bekerja dan beramal baik, sering bukan karena Alloh, tetapi karena pertimbangan yang lain, yang lahir dari hawa nafsu, seperti mencari muka atau pamer(riya`) dan mencari popularitas(sum`ah). Kedua sifat ini dalam mata sufinisme merupakan penyakit yang dapat mengrogoti keihlasan seseorang dan mendekatkannya ke pintu gebang ke musrikan.
Menurut Ibnu Athaillah, penulis kitab Hikam, amal perbuatan hanyalah bentuk, sedangkan substansinya adalah ikhlas, aktifitas keagamaan tanpa ikhlas adalah sia-sia, tak ubahnya seongok tubuh tanpa jiwa atau roh. Beragama tanpa berserah diri kepada Tuhan hanyalah kebohongan belaka.
F. Cinta Kasih
Bagaimana kita dapat menikmati hidup tanpa memberikan cinta kasih kepada orang lain.
Apa yang di nyatakan oleh Leo F.Buscaqlia di dalam bukunya “cinta” upaya untuk memahami suatu fenomena kehidupan:
“cinta itu bagaiakan cermin. Jika anda mencintai orang lain, maka anda menjadi cerminnya dan dia menjadi cermin anda……….dan dengan saling memantulakan cinta satu denagan yang lainnya anda melihat keabadian.”
Ada sesuatu yang hilang di dalam diri kita, sehingga kita tidak bahagia. Kita tidak dapat menikmati hidup kita kerena kita tidak mampu memberikan kasih. Oleh karena itu berikan cinta kasih kepada orang lain dan kepada semuanya, agar hidup kita menjadi bermakna di dalam filsafat Hindu di kenal dengan istilah “Tat Twan Asi” Tat artinya Ia, Twam artinya kamu, Asi artinya adalah. Artinya “Ia adalah kamu” saya adalah kamu segala makluk adalah sama, sehingga menolong orang lain adalah menolong diri kita sendiri dan menyakiti orang lain berarti menyakiti diri kita sendiri.
G. senantiasa bersikap rendah hati dan berani untuk selalu memperbaiki diri dalam tugas hidupnya
Ungkapan yang terkenal :”Mulat sarira Hangrasawani” adalah salah satu ungkapan dari 3 ungkapan yang merupakan semboyan pangeran samber nyowo (mangkunegoro I). semboyan tersebut di kenal denagn Tri darma yaitu:
1.Rumongso Melu Handarbeni
2.Wajib Melu Hangrukebi
3. Mulat Sariro Hangraswani
Arti yang tersirat sari ungkapan tersebut adalah bahwa kita harus senantiasa memandang ke dalam diri kita masing-masing untuk melihat kesalahan yang telah kita sadari itu.
Dan ungkapan tersebut di atas maka akan menumbuhkan sikap rendh hati dan tidak menjadi”Adigang Adigung Adiguno” yang berarti takabur atau sombong.
G. Salah satu dari 8 pokok nasehat nabi Muhammad SAW ialah “tidak ada Ibadah tanpa Tafakur”
Adapun 8 pokok nasehat beliau berikan sebagai berikut:
1. tidak ada kefakiran yang lebih hebat dari pada kebodohan
2. tidak ada harga paling berharga dari pada akal
3. tidak ada kesepian yang lebih sunyi dari pada ujub
4. tidak ada kekuatan yang lebih kuat dari pada musyawaroh
5. tidak ada iman yang lebih hebat dari pada keyakinan
6. tidak ada wara yang lebih baik dari pada menahan diri
7. tidak ada keindahan selain budi pekerti
8. tidak ada ibadah selain tanpa tafakur

Rosulloh SAW, berkata “merenung (tafakur) sesaat lebih baik dari pada ibadah 1 tahun”
Berkali-kali dalam Al-Qur`an Alloh SWT menyuruh kita bertafakur dan bersemedi, dan mereka yang berbuat demikian itulah yang sangat di hargai oleh Alloh SWT, akan menghargai mereka yang selalu suka bertafakur merenungkan kejadia-kejadian langit dan bumi, dan mereka menaydari pula” Oh Tuhanku, tidak sia-sia Kau ciptakan semua ini (Qur`an 3:1991)
dalam sastra agama Hindu yang lebih banyak mendapatkan perhatian pengendalian itu adalah fikiran dan indriya. Maka indriya harus di kendalikan supaya sang pribadi dapat menjadi tuannya dan bukannya pribadi menjadi budaknya.
Untuk membebaskan manusia dari belenggu dunia, Alloh SWT mengaskan bahwa dunia itu permainan, tipuan dan fitnah. Dalam hadits Qudsi Alloh berfirman: “Wahai dunia mengabdilah kamu kepada orang-orang yang telah mengabdi kepadaKU dan perbudaklah orang-orang yang mengabdi kepadamu”.
6. Pentingnya Mawas Diri
Denagan mawas diri yang pada hakekatnya samapai pada pengenalan diri sendiri sekaligus pengendalian diri, maka di dalam kehidupan kita sehari-hari dapat di capai hal-hal sebagai berikut:
a. rohani kita menjadi bersih, jiwa kita menjadi tenang dan perasaan kita lebih tentram. Pencapaian kondisi yang demikian ini sangat penting sekali, tidak hanya bagi kita sendiri secara pribadi namun lebih jauh lagi dapat memberikan ketenangan dan kedamaian di dekitar kita.
b. Senantiasa mensyukuri nikmat yang di berikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Hidup kita bukanlah sekedar kalkulasi untung rugi, gagal sukses secara material. Dalam muhasabah(evaluasi=mawas diri ) sepatutnya kita juga menghitung dengan parameter nilai-nilai ketaqwaan. Misalnya apakah kita mampu menjadi manusia yang bersyukur atau malah sebaliknya kian bersunber kufur kepada Alloh
Dan ingatlah Tuhanmu memaklumkan:
“ sesunguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah(nikmat) ke-padamu, jika kamu ingkar(nikmatku) maka sesunguhnya adazabKu sangatlah pedih” (Qur`an surat 14:7)
c. mampu membrikan manfaat (rahmatbagi orang lain
begitu singkat Alloh merumuskan fungsi di utusnya Nabi Muhammad SAW ke atas bumi “ Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) kecuali hanya menjadi rahmat bagi seluruh alam”
7. kesimpulan
Dri uraian tersebut bahawa mawas diri merupakan suatu yang perlu mendapatkan perhatian sekaligus di mengerti, di hayati dan di amalkan di dalam kehidupan sehari-hari. Jadi singkatnya mawas diri tidak dapat di pisahkan dari kehidupan kita dewasa ini. Sebab tanp[a mawas diri maka kehidupan kita terasa semata-mata berjalan secara rutin, penuh konflik, tidak menentu, gersang tanpa makna dan tidak dapat bermanfaat bagi kehidupan kita bersama.
Senoga makalah ini dapat memberikan sedikit sumbangan pemikiran, yang mungkin bermanfaat bagi sekalian
Madiun 26 januari 2008
Daftar pustaka
1. kamus besar Bahasa Indonesia Edisi kedua balai pustaka 1993
2. nasirudin Zuhdi MA “ Mawas Diri” Rubrik Hikmah harian Reprublika 31 oktober 1994
3. Arynurthi, SE dkk, study kepustakaan tentang prilaku hukum dan ilmu sumaroh, naskah IV Depdikbud, Ditjen-bud, Dit binyat, proyek investarisasi Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa, 1980. hal 33
4. I wayan sekur” mencari persamaan di dalam perbedaan” majalah bulanan Theosofi, 8 april 1994
5. Arymurthi SE “mengenal Hati Nurani”
6. K.H. Syamsuri Ridwan “musuh terbesar” Rubrik Hikmah dalam harian Reprublika, 20 juli1994
7. Ir. Sri Mulyono SE “ Wayang dan karakter manusia” Gunung Agung Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: