ALIF MERUPAKAN LAMBANG MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI (TUHAN DALAM PENGEJAWANTAHANNYA ) SANG SUKSMENG TLENGIING SAMADI SIWA-BUDHA SIRO SAKALA NISKALA ATMAKA( sang suksma dalam semadi terdalam adalah SIWA-BUDHA menjelma dirimu bersifat lahir-batin) NAGARA KARTAGAMA

ALIF MERUPAKAN LAMBANG MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI (TUHAN DALAM PENGEJAWANTAHANNYA ) SANG SUKSMENG TLENGIING SAMADI SIWA-BUDHA SIRO SAKALA NISKALA ATMAKA( sang suksma dalam semadi terdalam adalah SIWA-BUDHA menjelma dirimu bersifat lahir-batin) NAGARA KARTAGAMAALIF
MERUPAKAN LAMBANG MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI (TUHAN DALAM PENGEJAWANTAHANNYA ) SANG SUKSMENG TLENGIING SAMADI SIWA-BUDHA SIRO SAKALA NISKALA ATMAKA( sang suksma dalam semadi terdalam adalah SIWA-BUDHA menjelma dirimu bersifat lahir-batin)
NAGARA KARTAGAMAA

USIA KEBUDAYAAN NUSANTARA
Para ahli purbakala berpendapat bahwa pada zaman pra sejarah, sekitar 2500 SM, di Nusantara-Indonesia telah berkembang suatu kebudayaan, yang oleh Stuterheim disebut “kebudayaan Bahari”.(Maritieme cultuur). Dengan perahu bercadik, ciri khas zaman itu, bangsa kita telah mampu mengarungi sampai Madagaskar dan Pulau Paskah. Jadi telah dikuasai pelayaran perdagangan, juga pertanian dengan pengatuan perbintangan yang berhubungan dengannya. Dikuasai pula kesenian seperti gamelan dan wayang
(1). Di daerah pegunungan terdapat tempat pemakaman berupa ‘punden berundak’ beserta ‘Menhir’ yang sekaligus tempat pemujaan dan mengadakan hubungan dengan para roh leluhur.
(2). Namun jauh sebelum zaman prasejarah itu terdapat sisa-sisa kerangka manusia purba, sepanjang Bengawan Solo, Jawa, yang disebut PITHECANTROPUS (HOMO) ERECTUS, kurang lebih satu juta tahun SM.
Di asumsikan bahwa antara 1.000.000-2500 Tahun itu telah didapatkan’ Kebudayaan Pasific’ dengan Negara ‘LEMURIA’. Hal ini disejajarkan adanya ‘Kebudayaan Atlantis” dengan Negara ‘ATLANTIS’ yang disebut-sebut oleh penulis Yunani. Bila di Atlantis berkembang Ilmu pengetahuan Eksolerik-Alam (sains), di Lemuria berkembang ilmu pengetahuan Eksoterik-supernatural yang mengajarkan kesatuan kehidupan: PENCIPTA-CIPTAAN (CREATOR-CREATION). Kehidupan merupakan dwitunggal : CIPTAAN-PANCARAN/KREASI-EMANASI (CREATION-EMANATION). Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa, mengejawantahkan diri sebagai ‘YANG TRANSENDEN’ jauh diluar jangkauan manusia, tetapi sekaligus berada di dalam diri manusia sebagai ‘IMANEN’. Dwi Tunggal kebenaran Tuhan ini kini dapat difahami berkat penemuan sains modern, ialah psikiologi Freud(psikionalisa ; ambevelensi) dan fisika atomic-subatomik (Einstein: E=mc2). Logika Traditional-clasic Aristoteles diganti dengan logika paradoks. Dalam ilmu Esoterik berkembang pula META LOGIKA, dengan penggunaan berbagai lembing, kias, perumpamaan dan Metafora.
Ilmu Esoterik dengan ajaran ‘Kesatuan Hidup’ inilah kehidupan menjadi dasar berbagai agama mempengaruhi Kebudayaan Indonesia : Agama Hindu, Budha dan Islam. Ajaran dan pelaksanaan agama mempunyai pola MOSAIC. Dari luar kedalam, Eksoterik-esoterik atau dari bawah keatas, cipta-pencipta, kini dilambangkan dengan sebuah TUMPENG. Dipuncak tumpeng ditanamkan: TELOR/BAWANG MERAH dan CABE, lambang penciptaan manusia menuju Penciptanya (SANGKAN PARAN). Kesatuan / kemanunggalan ini kita saksikan:
1. Agama Hindu : Atman-Brahman
2. Agama Budha : Kecerahan, Nirwana , Kebudhaan
Di Indonesia : Bait dari Negara Kartagama : Siwa-Budha-Diri Manusia
3. Agama Islam: Fana-Baka: Manunggaling Kawulo Lan Gusti.

AGAMA DAN FILSAFAT
Agama berkembang jauh lebih dahulu dari Filsafat. Kita dapatkan :  4000 SM :Mesir dan Yunani Kuno;Timur Tengah : Yahudi,Cina :Taoisme dan Canfusianism;India : Kebudayaan Arya: Nesa, Upanisad, Bhagawadgita, 1500 SM.
Filsafat adalah ciptaan bangsa Yunani,  600 SM, dengan tokoh – tokoh antara lain :Socrates, Plato dan Aristoteles. Yang terakhur ini menciptakan logika klasik atau tradisional dengan tiga hukum dan Silogisme. Logika ini hanya berlaku dalam alam fisik, yang dapat ditangkap dengan panca indra. Filsafat berasal dari kata : PHILOSOPHIA yg berarti : THE LOVE OF FISDOM. Alat telaah adalah rasio –nalar-pikir-akal.
Agama didasarkan atas kepercayaan dan Iman, terutama dalam agama wahyu. Dalam perbedaan ini, didunia barat diadakan batasan tegas antara Filsafat dan Agama. Didunia sebaliknya antara keduanya ada keterkaitan dan hubungan erat. Dapat dikatakan bahwa: FILSAFAT DAN AGAMA ADALAH DWI TUNGGAL USAHA MANUSIA UNTUK MENCAPAI KESEMPURNAAN DAN MEMPEROLEH PENGETAHUAN MUTLAK.
AGAMA HINDU
Dasar kehidupan alam semesta adalah BRAHMAN, Yang Mutlak, Yang Maha Esa. Manunggal dengan Brahman merupakan tujuan tertinggi dalam Weda dan Upanisad. Brahman mengejawantahkan dalam Trimurti: Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa. Brahman is de spirituele, universele, allerhoogste werkelijkeid.
Dasar kehidupan manusia adalah ATMAN: The self, Het Zelf, pribadi, Ingsun. Kemanggalan Ataman-Brahman dicapai dengan Yoga. Yoga berasal dari kata sansekerta ‘YUG’ dalam bahasa Inggris ‘Yoke’ Belanda ‘Juk’ Perancis ‘Joindre’-menyatukan. Jalan menuju Kemanunggalan ini terjadi dalam tingkatan-tingkatan, yang juga dilukiskan dalam WAYANG : Karma (Resi Bhisma), Gunawan Wibisana (Makhuta Rama) dan Moksa( Bima dalam lakon Dewo Ruci).
AGAMA BUDHA
Agama Budha pada asalnya dinyatakan dalam: Empat Kasunyatan Agung dan Delapan jalan utama, yang berpuncak pada : SAMADI atau MEDITASI. Perjalanan manusia menuju kebudhaan dilukiskan dalam BOROBUDUR dalam empat tingkatan: Kama Dhatu atau Karma Wibangga, Rupa Dhatu, Arupa Dhatu dan Stupa tertinggi yang melambangkan Kebudhaan.
AGAMA KRISTEN
Empat tingkatan ini dihayati pula oleh para ahli Mistik Kristen, terutama Khatolik seperti Meister Eckhart, Jacob Boehma dan Theresa De Avila : Via Purgativa, Via Iluminativa dan Unio Mistica-Manunggal.
AGAMA ISLAM
Empat tingkatan jalan juga kita dapatkan disini : Syariat, Thariqat, Haqiqat dan Ma`rifat. Baru dalam agama Islamlah kita dap[atkan istilah : ABD atau KAWULO.
KAWERUH KEJAWEN
Kaweruh kejawen ini umumnya menjadi dasar pelaksanaan penghayatan dari berbagai aliran Kepercayaan (Kebatinan, Kerohanian , kejiwaan):
1. Dasar kehidupan alam semesta adalah Tuhan Yang Maha Esa atau Sang Hyang Whidi, Suksma Kawekas.
2. Citra manusia mempunyai tiga dimensi : Raga-Jiwa-Suksma (Jasmani-Nafsu-Roh) dan Spiritual=supra natural (L.H. Lahir-Batin-Gaib)
3. Susunan pribadi manusia telah diamati secara empiris : Kakang Kawah, Adhi Ari-ari, sedulur papat, kelima pancer. Kelima pancer ini adalah: Pribadi Ingsun, The Self, Atman dan mempunyai tiga aspek : Roh suci, Suksma atau Guru Sejati dan Suksma Sejati.
4. Kamunuggalan dilakukan dengan jalan semadi tergambar : sedhakep saluku tunggal, (lenggah silo trap silo, ngapurancang pinangku), Mandeg pucuking Grana, nutupi babahan nawa sanga, Ngekes panca driya, Sekawang kang arsa binungkas, sajuga kang sinidikira, KINARYA NUT LAKSINANING BRATA.
5. Tingkatan samadi adalah : Heneng-Hening-Heling (sadar-(Hawas)-Melihat-Weroh). Maka kita pakek kata KAWRUH. Kata ILMU atau NGELMU baru timbul sesudah Islam masuk. Ilmu ditulis dengan huruf ‘AIN’ yang dengan huruf jawa menjadi ‘NGA’ maka NGELMU
6. Laku sehari-hari adalah : TIRAKAT, berupa antara lain cegah Daharnendra, poso ngebleng, pati geni, ngrowot, ngayep, senin-khamis, menelusuri tempat-tempat keramat, melaksanakan catur sembah seperti yang tertulis dalam serat WEDHATAMA, karya Mangkunegoro IV. MANUNGGALING KAWULO GUSTI BERLAMBANGKAN HURUF ‘ALIF’ ucapan penghayatan kesatuan hidup, kesatuan Pencipta-Ciptaan, WAHDAD AL-WUJUD,sering dilakukan oleh para ahli tasawuf, sufi atau Tarekat. Ucapan mereka itu sangat dikecam oleh para ahli Syariat, yang menilai semuanya hanya dengan Logika Aristoteles saja dan mengingkari pengalaman-penghayatan Alam Gaib. Terkenal dalam sejarah tasawuf antara lain: Ibn ‘Arabi dan Al-Hallaj dengan ungkapan : “ Anna al-Haaq” Di Indonesia dikenal dengan : syeh Siti Jenar, Hamzah Fansuri, Samsudin Pasei.
Bagaimanakah sebenarnya penghayatan kemanunggalan ini ? Gambaran terbaik kita dapatkan dalam buku Primbon Abad 16:
“Marga rawuh ing Allohu ta`ala tigang pangkat; kang sepangkat SAREKAT, ke 2 TAREKAT, ke 3 HAKEKAT. Allahu ta`ala ASIH ing KAWULO binakuken lawang anget iria, dadi arek iya ing Allah, mangka alungguh ing kalewihaning TOHID. Sesampun alungguh, yata kabuka waranane, mangka ia sapatinggalan, mangka ta teka kanga ran biniraeken, mangka ta teka alungguh ingkang aran AWOR ING TUNGGAL. Sesampun alungguh, mangka ta kabuka kaagunganing Alloh kelawan kaeolokaning Alloh. Natkalane aningali kaelokaning Alloh kang kekel, ORANA IYA.ing nalikane iku KAWULO IKU LENYAP, anging Allah kang kekel. Mangka Allahu ta`ala HAMULIHAKEN ING KAWULO IKU. Punikulah tingkahing MAARIPAT”.
Ki Sumidi Adisasmita mempunyai catatan sebagai berikut: “Serat DEWA RUCI gubahan Yasadipura I lan sanes-sanesipun inggih namung ngewrat setunggal ngelmu, inggih puniko KAWRUH MANEMBAH ngantos sayed MANUNGGAL KALIAN INGKANG SINEMBAH”. ALIF telah dikupas secara mendalam dalam buku : “PENGERTIAN HURUF ALIF DALAM PAGUYUBAN SOSROKARTONO, DALAM KANDUNGAN AL-QUR`AN DAN DALAM KEJAWEN”. Dalam kesimpulan tertera:
1. Alif merupakan lambang atau kias Tuhan
2. Alif menyatakan keadaan Tuhan, lambang Ahadiyah
3. Alif memberi petunjuk adanya Alam Gaib
4. Alif memberi petunjuk adanya Dzat Mutlak
5. Alif menggambarkan lukisan kias wujud Tuhan
Kesimpulan akhir adalah: ALIF MERUPAKAN LAMBANG TUHAN DAN PENGEJAWANTAHANNYA, KESATUAN PENCIPTA-CIPTAAN DAN MANUNGGALING KAWULO GUSTI.

ا
LAMBANG MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI

BACAAN
1. Stutterehein, Dr.WF, Cultr uugeschidenis van Indonesia, 1952 Jakarta, III deel II
2. Soekmono, Prof. Dr. pengantar Sejarah Indonesia, 1982 III, jilid I
3. Pigeud, Th. Java In The 14 “Century jilid I-V, 1960 Libra, New York.
4. Runes Dagobert D. Dictory of Philosophy, Philosophical 1960 Library. New York
5. Aurobimdo, Sri, Licht op Yoga, Uitgeverij BV, 1976 Deventer
6. Deussen, Dr. Paul, outlines of Indian philosophy. 1976 Delhi-110052
7. Ramacharaka, Yogi, De Yogi-Leer der Ademhaling, Ankh Hermes, 1974 BV Deventer.
8. Fakhry, Majid, A History of Islamic philosophy, Columbia 1983 University press, New York
9. Drewes, GWJ, Een Javanese Primbon uit de zestiende Eeuw, 1954 Leiden, HJ Brill
10. Adi Sasmito, Ki sumidi, Serat Centini, Yayasan Sosrokartono, 1971 Yogyakarta.
11. Cipto Prawiro, Abdullah dr, pengertian Huruf Alif dalam 1991 paguyuban Sosrokartono, dalam kandungan Al-Qur`an dan dalam kejawen.

2 Komentar »

  1. dwex Said:

    saya insya alloh faham.dg yang anda tulis diatas apakah saya..di perkenankan tanya dengan anda

  2. juzzto Said:

    saya sangant terimakasih sekali bila ada kritikan dan masukan ke saya …..silahkan bos…saya akan menjawab sebisa saya…………….thank`s so much


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: